Bilik Pustaka

Piala (Pohon Literasi Anak Gembala) Upaya Mewujudkan Anak Gembala yang Berakhlak Mulia

Pendidikan merupakan organ yang sangat penting untuk menunjang keberlangsungan hidup seseorang, bangsa bahkan negara. Pendidikan salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh untuk meciptakan sebuah perubahan karena merupakan jantung dalam membentuk kedaulatan suatu negara yang ketika berhenti berdetak maka berhentilah harapan dan masa depan bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan generasi dan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi yang dapat bersaing secara global serta mampu menjawab dan menyelesaikan permasalahan di era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan kompetisi.

Hak atas memperoleh pendidikan merupakan salah satu hak asasi manusia yang wajib diperoleh oleh seseorang yang harus dipenuhi oleh sebuah negara untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang seluas-luasnya dan merata. Sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa Negara wajib menjalankan Undang-Undang tentang Pendidikan dan Pengajaran No. 4 tahun 1950, Nomor 2 tahun 1945, Bab III Pasal 4 Yang Berbunyi: Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas asas-asas yang termasuk dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar RI dan kebudayaan bangsa Indonesia. Kewajiban dimaksud mencakup kewajiban menjamin pemenuhan pendidikan setiap orang (warga Negara) secara merata yang berlandaskan pada pancasila dan UUD RI.

Untuk bisa melaksanakan kewajiban tersebut secara efektif, maka Negara wajib memenuhi kebutuhan pendidikan bagi setiap orang. Setiap orang berhak merasakan yang namanya pendidikan baik pendidikan formal maupun non formal. Namun, realita yang terjadi saat ini sangat memprihatinkan dikarenakan tidak semua orang mampu merasakan yang namanya pendidikan. Selain sebagai hak asasi manusia, pendidikan juga memiliki peran strategis bagi suatu Negara karena dapat mempengaruhi kondisi sosial, pendidikan, ekonomi, dan politik Negara tersebut. Tatkala pemenuhan pendidikan secara merata belum terlaksana dengan baik. Sehingga untuk menciptakan generasi yang berintelektual yang mampu berdaya saing global belum mampu untuk diwujudkan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sriwulangdari dalam jurnal La Geografia (Sriwulangdari, 2018) di Desa Mallasoro Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto banyak terdapat anak putus sekolah disebabkan karena berbagai faktor yaitu faktor ekonomi, minat anak yang kurang, perhatian orang tua rendah, menikah, kurangnya sekolah di desa ini serta jauhnya jarak sekolah dari tempat tinggal mereka. Permasalahan ini menjadi bukti bahwa pendidikan di Indonesia belum merata baik pendidikan secara formal maupun pendidikan non formal. Faktor tersebut tentunya menjadi permasalahan yang sangat membutuhkan perhatian penting dari pemerintah, masyarakat, dan generasi sebagai agent of change.

Salah satu upaya untuk meningkatkan pendidikan dan memberikan pendidikan merata kepada setiap orang (generasi) adalah dengan cara memberikan pendidikan non formal sebagai upaya menanamkan pendidikan diluar pendidikan formal yang belum maksimal keberadaannya. Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling memperkaya dan melengkapi. Mereka yang tidak bisa mendapatkan pendidikan formal bisa mengambil alternatif pendidikan nonformal atau informal. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang seperti kursus dan pelatihan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan penulis di kampung halamannya yaitu di Dusun Buludoang, Desa Tuju, Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan terdapat anak-anak yang tidak mampu bersekolah, putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Faktor yang menyebabkan anak-anak tersebut terhenti sekolahnya yaitu faktor ekonomi, kurangnya semangat dan dukungan dari oang tua dan keluarga, serta lingkungan. Ada 3 ciri khas yang dilakukan anak-anak, remaja, ataupun dewasa yang tidak bersekolah yaitu bekerja, menikah, dan menjadi pengembala hewan ternak. Anak-anak yang menjadi pengembala hewan ternak mayoritas tidak pernah merasakan yang namannya pendidikan (bersekolah) sehingga mereka tidak mampu membaca dan menulis.

Anak pengembala tersebut sangat ketertinggalan dari segi pengetahuannya baik membaca maupun menulis mereka belum bisa. Aktivitas sehari-hari mereka hanya mengembala dan bermain bersama teman-teman pengembalanya dibawah pohon sehingga mereka tidak mendapatkan edukasi apapun dalam kesehariannya baik ilmu agama ataupun ilmu yang lainnya. Padahal mereka juga berhak bersekolah secara gratis dan memanfaatkan segala fasilitas pendidikan yang diberikan oleh pemerintah. Namun, anak pengembala tersebut tidak sepenuhnya mendapat perlakuan yang sama dengan anak-anak pada umumnya sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian mereka mengenal dunia pendidikan yaitu bersekolah.

Setiap orang adalah generasi pelanjut, generasi pembawa perubahan, dan terpenting yaitu generasi yang didesain sedimikian rupa agar bisa menjadi generasi muslim milenial karena menjadi muslim milenial tentunya memiliki pengetahuan spiritual yang baik sehingga mampu bersaing dari segi akhlak dan intelektual spiritualnya. Termasuk anak pengembala yang akan didesain sedemikian rupa agar mampu menjadi generasi yang berintelektual dan diupayakan menjadi anak yang berakhlak mulia, aktif, kreatif, dan produktif. Salah satu ilmu pengetahuan yang sangat perlu untuk di transformasikan untuk anak pengembala adalah ilmu agama dengan pembekalan ilmu cara membaca al-qur’an, bacaan shalat dan tata cara gerakan shalat, dan tentunya akan diajarkan cara membaca dan menulis.

Anak pengembala tersebut akan di didik agar bisa menjadi anak yang mampu membaca dan menulis, memiliki akhlak yang baik, aktif, kreatif, dan produktif dengan metode pendidikan non formal. Sehingga waktu kesehariannya tidak dihabiskan hanya dengan mengembala dan bermain saja. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka diperlukan adanya suatu upaya penciptaan wadah edukasi yang efektif dan efisien guna memberikan edukasi kepada anak pengembala. Oleh karena itu, peneliti memberikan sebuah solusi yang dapat meminimalisir anak-anak putus sekolah dan buta akan membaca dan menulis yang dikhususkan pada anak gembala.

Piala (Pohon Literasi Anak Gembala) Upaya Mewujudkan Anak Gembala yang Berakhlak Mulia

Piala merupakan sebuah wadah untuk memberikan edukasi kepada anak pengembala yang bertujuan untuk mendidik dan membina anak pengembala agar dapat membaca dan menulis.

Perlu saya sampaikan kepada seluruh khalayak pembaca yang nantinya membaca tulisan ini, bahwa anak gembala yang ada di daerah saya yakni di Desa Tuju, Kecamatan Bangkala Barat salah satu kampung yang sebenarnya tidak terlalu terpencil hanya saja sangat ketertinggalan pendidikan. Anak gembala yang ada di daerah tersebut itu tidak semua anak-anak berasal dari kampung tersebut. Tetapi, juga ada anak-anak yang berasal dari daerah lain yang dikirim oleh orang tuanya untuk menjadi seorang pengembala. Orang tua menjadikan anaknya pengembala adalah orang tua yang masa bodoh sehingga anak juga tidak memiliki semangat untuk bersekolah dan terpenting adalah faktor perekonomian keluarga yang tidak menunjang dengan baik sehingga mau tidak mau anaknya harus dikorbankan menjadi seorang anak gembala dengan tujuan hasil dari gembala tersebut akan di jadikan sebagai cara atau jalan untuk bisa bersekolah dikemudian hari. Istilahnya adalah anak tersebut harus menabung terlebih dahulu jika memang ingin bersekolah.

Ada juga orang tua yang memberikan keterangan bahwa setelah mengembala anak tersebut akan disekolahkan. Namun, suatu waktu terdapat anak gembala yang tidak bisa bersekolah meskipun telah selesai mengembala. Mereka bahkan melanjutkan penderitaan dengan menjadi seorang tukang batu atau kuli bangunan yang ikut bersama sang ayah. Padahal, anak ini sudah menjadi seorang pengembala dengan waktu yang telah menjadi aturan dari orang yang memiliki hewan ternak yakni 2,5 tahun masa mengembalanya. Jadi, jika dibayangkan betapa mirisnya kondisi anak gembala tersebut apabila tidak diperhatikan dan difasilitasi. Sehingga untuk meminimalisir anak-anak yang buta baca dan menulis sangat diperlukan edukasi non formal. Nah, salah satunya yaitu melalui program Piala.

Piala merupakan singkatan dari “pohon literasi anak gembala” yang merupakan wadah edukasi yang dilaksanakan secara non formal yang diharapkan dapat menjadi aktivitas produktif mengisi keseharian anak gembala selain mengembala dan bermain. Jadi piala ini akan didesain sebaik mungkin dibawah sebuah pohon. Karena pohon adalah tempat berteduh anak gembala dikala waktu istirahat dan makan siang. Kala istirahat mereka tidak kembali ke rumahnya, melainkan mereka tiap harinya membawa bekal untuk kebutuhannya dan akan pulang ke rumah ketika waktu petang tiba.

Pohon literasi tersebut sebagai upaya yang sangat berpengaruh dalam mewujudkan potensi setiap orang sehingga perlu untuk dibumikan ditempat manapun. Literasi (literacy) bukan hanya dalam arti sempit berupa kemampuan individu dalam membaca dan menulis, melainkan meliputi kontinum pembelajaran yang memungkinkan individu dapat mencapai tujuan hidup mereka, mengembangkan pengetahuan dan potensinya, dan partisipasinya secara penuh dalam kehidupan sosial mereka secara luas (Wahidin, 2018). Pohon literasi ini sebagai istilah atau nama dari wadah edukasi untuk anak gembala.

Pohon literasi ini akan difokuskan pada pembelajaran spiritual dan materi umum lainnya yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Anak gembala akan diberikan beberapa materi seperti cara membaca dan menulis, pendidikan agama islam, ilmu pengetahuan alam, dan matematika, serta belajar mengaji yang didalamnya akan diajarkan bacaan shalat dan gerakan shalat.

Berikut beberapa komponen yang termuat dalam konsep piala yaitu sebagai berikut:

  1. Perpustakaan Layang
    Layang merupakan bahasa daerah bugis Makassar yang artinya melayang atau digantung. Perpustakaan layang merupakan sebuah perpustakaan mini yang didesain di atas pohon dengan cara dibuat seperti lemari buku dan digantung di atas pohon. Tujuan dari perpustakaan layang ini adalah sebagai tempat anak gembala untuk menimbah ilmu dengan membaca buku-buku yang ada. Tentunya bukunya bersifat umum sesuai dengan kebutuhan anak gembala seperti buku abjad, perhitungan, tentang alam sekitar, cerita, iqra, dan buku-buku edukasi ringan lainnya yang mudah dipahami oleh anak gembala.
    Jadi bagi anak gembala yang ingin membaca mereka akan naik ke pohon untuk mengambil bukunya dan dibawa ke taman belajar. Setelah dibaca itu dikembalikan ke perpustakaan.
  2. Taman Belajar
    Melihat kondisi anak gembala yang belum bisa membaca dan menulis, maka dari itu diperlukannya relawan yang diharapkan selalu memperhatikan anak gembala tersebut yakni mengajar bagaimana cara agar mereka bisa membaca dan menulis. Taman belajar ini tentunya akan difasilitasi seperti tikar/spanduk bekar sebagai pengalas, meja belajar, buku dan pulpen, papan tulis, dan perlengkapan belajar penunjang lainnya. Anak gembala tidak hanya di ajarkan membaca dan menulis saja, tetapi juga di ajarkan bagaimana cara mengaji dan shalat. Tentunya untuk memberikan kenyamanan dalam belajar anak gembala juga tidak hanya belajar ilmu teori saja namun juga akan disertai dengan praktik, pelatihan kreativitas, dan games.
  3. Pelatihan Kreativitas
    Pelatihan kreativitas yang dimaksud ini adalah anak gembala akan diberikan suatu waktu yang khusus untuk memberikan mereka kebebasan dalam berpikir dan kerkreasi. Mereka akan diberikan beberapa alat dan bahan belajar dan diberikan kesempatan untuk mengkreasikan alat dan bahan yang telah disediakan. Nah, hasil dari kreativitas tersebut yang dapat bernilai jual akan diperkenalkan dan dipromosikan ke orang-orang sekitar bahwa ini adalah karya anak gembala sebagai bukti bahwa anak gembala sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa untuk dikembangkan.

Dalam menjalankan program literasi tersebut, tentunya dibutuhkan orang yang berkomitmen dan konsisten untuk menjalankan visi program ini yaitu mendidik anak gembala sehingga terciptanya anak gembala yang berakhlak yang mulia. Gagasan tidak hanya sekadar gagasan saja, sebagai penulis gagasan tersebut tentu yang menjadi pemain utamaa dalam menjalankan program tersebut adalah diri saya pribadi sebagai masyarakat di daerah tersebut dan sebagai generasi pembangun desa yang berjuang dibaris pendidikan SIAP berbagi dan bermanfaat. Karena saya percaya bahwa, pengetahuan seseorang akan jauh lebih bermanfaat jika dimanfaatkan dan dibagi kepada orang sekitar dan tentunya akan menjadi amal ibadah bagi siapa saja yang berbagi ilmu.

Program Piala memiliki beberapa manfaat yaitu dapat membantu pemerintah dalam menunjang pendidikan setiap orang secara non formal, memberikan peluang bagi hak setiap anak gembala untuk merasakan yang namanya pendidikan, anak gembala dapat belajar membaca dan menulis, dapat mempelajari beberapa ilmu pengetahuan (seperti ilmu spiritual, matematika, dan ilmu pengetahuan alam), dan dapat mengasah kreativitas anak gembala, serta terciptanya anak gembala yang berakhlak mulia juga terciptanya anak desa yang giat meningkatkan literasi anak-anak.

Dalam menjalankan program literasi tersebut, tentunya dibutuhkan orang yang berkomitmen dan konsisten untuk menjalankan visi program ini yaitu mendidik anak gembala sehingga terciptanya anak gembala yang berakhlak yang mulia. Gagasan tidak hanya sekadar gagasan saja, sebagai penulis gagasan tersebut tentu yang menjadi pemain utamaa dalam menjalankan program tersebut adalah diri saya pribadi sebagai masyarakat di daerah tersebut dan sebagai generasi pembangun desa yang berjuang dibaris pendidikan SIAP berbagi dan bermanfaat. Karena saya percaya bahwa, pengetahuan seseorang akan jauh lebih bermanfaat jika dimanfaatkan dan dibagi kepada orang sekitar dan tentunya akan menjadi amal ibadah bagi siapa saja yang berbagi ilmu.

Sebelum Kita Mengubah Dunia, Maka Marilah Bergerak pada Hal-hal Kecil Dulu seperti apa yang di Katakan oleh Wakil Presiden Pertama Indonesia Moh. Hatta yaitu: “Indonesia tidak akan Besar karena Obor besar di Jakarta. Tetapi, Indonesia akan Besar karena Lilin-lilin yang ada di Desa”. Oleh karena itu, Mari Pemuda Desa Bergerak, Mari Bermanfaat, dari Desa untuk Desa. Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, sukses !!!

Referensi:

  • Sriwulangdari. 2018. Mapping Non-Formal Education Needs for Drop Out Youth in Mallasoro Village,
  • Bangkala District Jeneponto Regency. Universitas Negeri Makassar: Jurnal La Geografia. Vol. 17, No. 1.
  • Wahidin, U. 2018. Implementasi Literasi Media dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. STAI Al Hidayah Bogor: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 07, No. 02.

BIOGRAFI PENULIS

Sartika, lahir di Buludoang Kabupaten Jeneponto pada 01Juli 1999. Peneliti menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 230 Inpres Garonggong pada tahun 2011. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Mangarabombang dan tamat pada tahun 2014. Selanjutnya melanjutkan pendidikan di tingkat SMAN 2 Takalar dan selesai pada tahun 2017. Pada tahun 2017 peneliti melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Agama Islam dan mengambil jurusan Hukum Ekonomi Syariah. Adapun pengalaman organisasi yang pernah digeluti oleh penulis selama kuliah yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HMJ HES) sebagai Ketua Bidang Keilmuan, Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Polongbangkeng Kabupaten Takalar sebagai Sekretaris Bidang Keilmuan, Sanggar Seni Komunitas Mahasiswa Kreatif Fakultas Agama Islam ( S.S KOMET FAI) sebagai Anggota, Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (LKIM-PENA) sebagai Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Saat ini penulis berdomisili di Jl. Sultan Alauddin II Kota Makassar. Kontak Person Penulis 085398060095 (WA), FB: Sar Tika, IG: Sartika6511, email: [email protected]

 

 

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *